Feeds:
Posts
Comments

Tes Posting Via Flock

Di Coba

Blogged with the Flock Browser

banner baru

3D – 1991

Ini adalah legenda sebuah kelas yang penuh dengan haru biru, huru hara, dan gelak tawa. Hihihi… Tersebutlah sebuah kelas yang letaknya di panggung aula SMPN I Wates, sehingga kalau sedang ada Penataran, atau Perpisahan dan acara2 lain kita terpaksa mengungsi ke laboratorium. Kelas istimewa dengan murid2 yang istimewa pula. Bukan dari segi prestasi akademik tentu saja, karena dari kelas kami bahkan ga ada yang masuk 10 besar NEM terbaik. Tapi kalau masalah kekompakan dan kekeluargaan, kitalah jagoannya.

Di era itu, kami lah pendobrak tradisi dimana tempat duduk murid selalu sama setiap hari yang hanya bergeser2 setiap minggu. Kelas kami memulai tradisi dengan menentukan tempat duduk dengan sistem siapa cepat dia dapat belakang setiap hari. Betapa dinamisnya, bahkan guru2 juga heran dengan fenomena ini. Sebenarnya pola ini kami terapkan untuk mengantisipasi kebiasaan Bu Prapto guru Bahasa Inggris dengan yang dengan killer instinct-nya sering membinasakan muridnya dengan kata ” Corner please…!!!”. Alhasil setiap hari dimana beliau mengajar kursi2 di pojok sangat ditabukan.

Kami juga membuat gebrakan dengan melakukan silaturahmi ke rumah guru2 sehabis lebaran. Dengan bersepeda beramai2, berbondong2 dan berduyun2 menyerbu rumah guru2 dengan suka cita. Emang sih dapat makan gratis, tapi tentu saja maksud kami yang utama bukan itu. Beberapa guru sampai terharu ketika kami datangi.

Tapi kami punya sejarah kelam yang tak kan kami lupakan. Kami dibantai dengan sadis oleh Pak Biyan, guru geografi keturunan hobbit. Ya…kami bener2 dibantai, kepala sebagian kami dibelah ( istilah dia “diplathok” ), dijitak sekenceng2nya. Tidak peduli dia cewek atau cowok. Korban terbanyak adalah yang duduk di baris meja guru. Emang sih kami salah karena tidak menyalin catatan anak2 kelas 3 C. Untung aku selamat dari pembantaian walaupun aku juga ga bikin tugas. Paginya dahi temen2 korban pembantaian itu terlihat biru. Sedih banget deh.

Inilah mereka murid kelas 3 D tahun 1991 :

1. Astutik
2. Baharuddin Ahmad
3. Damar Sutantri ( anak dari guru SD ku )
4. Dewi Nur Aini ( cewek jagoan, terakhir jadi anggota DPRD Kulonprogo dari PKS, salut )
5. Diyah Restiana Kusumawati alias Menil
6. Darwanto ( kelas 2 pindah ke Irian )
7. Emha … ( aku lupa terusannya yg jelas buka Ainun Najib, dia cewek )
8. Eny Sulistyowati
9. Esti Mulat Sri Ningsih Slamet Mulyani ( rambutnya sepanjang namanya )
10. Evie Darmadiningrum ( jago gitar )
11. Guswanaji
12. Ihsan Budi Santosa
13. Isti Winarni alias ciblek
14. Jemiran ( Pak Tua dia kelairan 1972 )
15. Muhammad Cahyo Savitri ( abis penataran P4 dia pindah ke Mataram )
16. Muhammad Munir
17. Muh Anwar Fikri alias Bakrie
18. Mujiasih
19. Muryati
20. Nurwulan Hidayatun alias Atun
21. Purwanto
22. Priyo Cahyono
23. R. Eko Yunanto
24. Rr. Dyah Rini Kusumastuti
25. Rr. Heny Karuniawati
26. Rr. Yustitya Dyah Permana ( ce idola bersama )
27. Rumiyati
28. Senijem
29. Setiyarini
30. Aku
31. Sigit Siswandoyo ( ga se-SMA tapi kita bareng di Jurangmangu )
32. Slamet Wibowo ( anaknya Pak Pomo guru gambar )
33. Sumarsono
34. Sumiyati
35. Sunarwanto ( dari SMP sampe lulus SMA kita sekelas terus, kuliah kalo aku ngambil UGM kita se-fakultas juga)
36. Swastono Sapto Bintoro
37. Tetra Rianawati ( bintang kelas )
38. Tintin Susilowati
39. Tomi Cahyadi alias Tombol
40. Wawan Hari Purnomo ( tetangga temen dari SD )
41. Yani Widiastuti
42. Candra Savitri ( baru masuk di kelas 2 )
43. Lupa
44. Lupa juga

Yang tahu keberadaan mereka dan kabar mereka, kasih tahu aku ya….

Ket : yang di cetak miring mereka se-SMA ama aku.

Totto-chan

Buku itu sudah kelihatan lusuh. Sampul putihnya telah berganti kuning kecoklatan. Setelah aku buka halaman pertamanya, terlihat parafku dan tertera tanggal 22-07-04. Busyet….sudah tiga tahun buku ini teronggok di rak bukuku. Buku berjudul “Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela” karya Tetsuko Kuroyanagi ini sudah terlalu lama aku sia-siakan. Padahal kata orang yang pernah membacanya buku ini sangat bagus terutama buat pendidikan anak. Setelah merampungkan “Anak Bajang” aku memang sempat tergoda buat membaca Tulalit-nya Putu Wijaya, tapi semalam aku bongkar2 lagi koleksi bukuku buat mencari si Totto-chan ini, dan akhirnya kutemukan dia di gudang belakang. Bertepatan dengan momen Farrel masuk playgroup, akhirnya kutetapkan hati untuk membaca buku ini.

Sampai tulisan ini dibuat aku sudah sampai ke halaman 90. Inti buku ini sih kayaknya tentang pengalaman gadis cilik yang mulai masuk sekolah dengan gurunya yang sangat mengasyikkan. Sampai sejauh ini sih aku merasa buku ini bagus dan mengingatkan bahwa masa kecil adalah momen terindah dalam hidup kita.

Pengalaman pertama masuk sekolah Farrel kemaren seru juga. Hari pertama dia begitu excited tapi diakhiri dengan hampir tertidur di kelas saat menjelang pulang. Hari kedua dan ketiga berjalan lancar. Di hari keempat, saat aku dan istriku sudah mulai kerja, dia nggak mau pakai baju seragam dan diakhiri juga dengan tragedi pipis di kelas. Hari ini seharusnya dia masuk sekolah, tapi karena dari kemaren badannya panas dan batuk dia hari ini tidak masuk sekolah. Cepet sembuh ya Nak….

Membaca buku dengan tidak tuntas memang menjadi kebiasaan burukku sejak lama. Apalagi kalau ditengah kalau sampai di tengah jalan aku merasa bukunya tidak menarik. Telah banyak korban buku yang tak terselesaikan. Dunia Sophie dan Misteri Soliter-nya Jostein Gaarder, Arok Dedes-nya Pram, My Name is Red dan White Castle-nya Orhan Pamuk, Digital Fortress-nya Dan Brown, Taiko-nya Eiji Yoshikawa, Buku keempat Kisah Klan Otori, Clear Present and Danger-nya Tom Clancy dan masih banyak lagi buku2 yang masih belum terselesaikan. Aku sih menganggap buku itu investasi, jadi masih bisa dibaca nanti-nanti.

Targetku sekarang ngabisin Totto-chan disambi baca Buku Pintar TOEFL…….Ayo semangat Mas…!!!

13 Juli 2003

“Saya terima nikah dan kawinnya Doris Octavia binti Haji Yahya Yakub Musri Simbolon dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang Rp. 105.000,- dibayar tunai”.

Tiba-tiba kata-kata itu memantul-mantul disekeliling ruangan dimana aku berada. Ngga terasa 4 tahun berlalu sudah salah satu momen terpenting dalam hidupku. Dimana aku mencoba membangun kembali sebuah keluarga baru dengan aku sebagai pemimpinnya.
Setelah berpengalaman menikahkan kakak dan adikku akhirnya aku kawin juga.
Thanks God…

Setelah melewati pacaran 4 tahun minus 1 bulan, hari itu aku berikrar untuk menjadi suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Berat juga ya, mengebiri ego pribadi untuk menyatukan persepsi apalagi kita beda budaya, meminjam istilahnya Samuel Huntington, terjadi benturan antar peradaban.

Kini setelah 4 tahun berlalu, momen itu tak akan aku lupakan. Buat istriku, terima kasih atas semua yang kau berikan termasuk jagoan kita Farrel, maafin aku yang sampe sekarang masih belum bisa memanggilmu “mama”. Kita emang ga sempurna, tapi hanya mencoba berbuat yang terbaik.

Buat mama yang ulang tahun juga di tanggal ini, semoga panjang umur, maaf di usiamu yang ke-50 ini kami masih saja merepotkanmu. Sudah anaknya diambil, ibunya juga masih direpotin buat ngasuh Farrel. Kehadiranmu mampu menggantikan ibuku. Thanks for everything…

Dan di pagi tanggal 13 Juli 2007, ngga tahu kenapa aku jatuh dari tempat tidur. Terjun bebas kayak anak kecil…..hehe. Untung kepalaku ga terbentur lantai, sehingga aku ngga amnesia dan masih ingat kalau hari itu, 4 tahun pernikahanku.

TOEFL

Nggak tahu terpicu dari apa, siapa, dan bagaimana, aku kok tiba-tiba pengen nyobain tes TOEFL. Telat ya…?. Disaat yang lain dah pada dapet beasiswa kemana-mana, aku baru pengen. Lama-lama panas juga sih, ngliat yang lain pada sukses sekolah lagi.

Beli buku udah, dapet software latihan juga udah, cuman baca ama nyoba2 soalnya nih yang males. Gimana nggak, bahasa Indonesia aja aku belum lancar eh berani2nya sekarang nyobain bahasanya wong bule. Yah mudah2an langkah ini adalah pintu untuk membuka kesuksesan yang lebih gilang-gemilang. Lebih baik nyoba daripada nggak sama sekali.

Kemaren2 udah mau ikut ujian beasiswa eh akunya takut kalo keterima. Istriku pas tak tanya boleh ga ikut beasiswa, dia njawabnya boleh aja sih kalo siap ninggalin anak n istri. Degh….aku jadi mikir berkali-kali, karena aku jarang nggak lulus ujian…..(sombong banget ga sih ?). Akhirnya setelah merasa agak dipersulit ama bigboss, aku mundur aja lah, ngasih kesempatan yang lebih muda. Tahun depan sih pengennya ikutan tes wat beasiswa dalam negeri aja biar ga usah jauh2 dari Farrel n keluarga. Tapi kalo ada beasiswa ke Inggris, pengen juga sih ikut kalo syaratnya memenuhi.

TOEFL2……susah banget sih kamu ?

Squatting

Pernah nonton film Korea yang judulnya 3-Iron ?. Film yang didalangi oleh Kim Ki Duk dan dibintangi oleh Lee Seung-Yeon, Jae Hee dan Kwok Hyeok-Ho ini adalah film yang pelit dialog. Ceritanya tentang seorang cowok yang hobbynya tinggal di rumah kosong yang ditinggal pergi penghuninya. Metode survey mencari rumah kosong dilakukan dengan menyebarkan selebarn iklan di pintu rumah, apabila sampai malam selebaran itu masih nempel digagang pintu, maka rumah itu pasti kosong. Dan dengan bermodalkan kunci palsu ala Mac Gyver dia bisa masuk ke rumah tersebut dan tinggal beberapa hari. Untuk selanjutnya tonton aja lewat DVD yang sudah berserakkan di Pasar Glodok, surganya para pembajak dan pecinta DVD bajakan. Kalau gak malu boleh juga pinjam ke aku. He…he…he

Hampir sebangun dan sejenis dengan cerita film di atas, aku jadi teringat cerita adikku yang ada di London yang aku baca dari email yang di forward dari email istriku. Dia cerita kalau dia pernah menemukan rumah kosong. Busyet…nemu kok rumah ya?. Biasanya adalah rumah yang sudah ditinggal mati oleh pemiliknya yang tidak punya ahli waris dan dibiarkan kosong dalam waktu lama.

Istilahnya adalah squatting, nah kalau orangnya dinamakan squater. Adikku dan suaminya pernah menjadi squater 2 kali. Dan hebatnya di sana, squatting itu legal. Bahkan polisi pun tidak bisa mengusir, harus lewat pengadilan. Bahkan pemiliknya tidak bisa masuk ke rumahnya sendiri karena bisa dianggap sebagai pencurian. Dia harus bisa menunjukkan bukti-bukti kepemilikan atas rumah tersebut. Kalau dia ahli waris maka dia harus bisa menunjukkan surat wasiat yang resmi, kalau disini mungkin harus ada akta notarisnya kali. Dan kalau surat wasiat itu hanya ditulis tangan maka harus menunggu surat pengesahan dari pemerintah daerah setempat. Kalau sampai 10 tahun bisa tinggal di rumah kosong itu tanpa ada orang lain yang bisa membuktikan kepemilikan secara sah, maka sang squater itu bisa melakukan klaim bahwa rumah itu adalah miliknya. Adikku lumayan bisa tinggal di rumah itu selama 6 bulan. Hmmm……..ngirit. Hati-hati ya Dik, aku baca emailmu sambil tersenyum sekaligus mengurut dada.

Jadi terbayang kalau hal ini squatting dilegalkan di negara kita. Mungkin bisa menurunkan jumlah tunawisma di Jakarta yang semakin hari semakin sesak oleh gelandangan dan pengemis. Kapan ya bisa nemu rumah…….?.

Nasionalisme

Dikutip dari buku “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Sindhunata yang sedang aku baca, aku temukan dialog antara Patih Prahasta (patih kerajaan Alengka) dengan Kumbakarna. Saat itu Kumbakarna sedang mengamuk karena kematian Wibisana adiknya, oleh Rahwana yang juga adalah kakaknya. Berikut petikannya :

“Kumbakarna, anakku !, Mungkinkah kejahatan itu tiada, sejauh kebaikan masih bertahta ? Kebaikan itu justru akan makin bersinar cemerlang karena adanya kejahatan anakku. Lihatlah, amarah diwangkara seakan membakar habis semuanya, tapi di Tepi Taman Argasoka, setangkai bunga padma mekar dengan indahnya. Dan betapa indahnya bunga padma itu justru karena Alengka sedang hangus oleh amarah diwangkara. Berilah kesempatan bagi kebaikan itu bertahta, jangan kau menghalangi kemekarannya dengan meniadakan kejahatan lawannya. Pada hematmu, Alengka ini tempat kejahatan. Pada hematku, justru di Alengka ini kelak kebaikan akan mekar. Siapa tahu, Nak, Alengka yang jahat ini adalah tempat yang paling baik bagi kebaikan untuk bertahta, meski itu terjadi kelak kemudian ?. Maka jangan kau hancurkan Alengka ini, Nak, karena dengan demikian kau menghancurkan pula kebaikan yang ingin bertahta di atas kejahatan ini. “

“Itulah, Nak, yang harus menjadi pegangan bagi seorang satria. Dan itu pula yang menjadi alasan mengapa satria harus membela dan memeluk negerinya. Meski negerinya jahat, bukan demi kejahatan itu ia membela negerinya, tapi demi kebaikan yang kelak akan bertahta di atas kejahatan. Mengertikah kau, Kumbakarna ?”

“Paman, tidakkah dengan demikian satria akhirnya juga harus menerima kejahatan negerinya ?”.

“Mengapa kau masih bertanya demikian, Nak ?. Tidakkah sudah kukatakan, seorang satria mau menerima kejahatan negerinya, justru karena ia tahu di sanalah kebaikan akan makin cemerlang bertahta?. Yang terakhir itulah yang harus menjadi kewajibanmu sebagai satria. Kalau kau berbuat demikian, akhirnya kau akan tahu bahwa tak ada negeri yang jahat. Negeri ini berasal dari kebahagian dan kedamaian warganya, atau setidak-tidaknya negeri ini terbentuk karena keinginan warganya yang ingin damai dan bahagia. Nanti kau akan tahu, Nak, kalu negeri ini jahat, bukan negerinya yang jahat, tapi penguasanyalah yang jahat. Maka hidup seorang satria itu memang berat, Nak. Satria itu harus bertapa di pucuk pedang, jadi sebenarnya lebih berat dari pada pendeta yang bertapa di pucuk gunung. Satria itu tahu kejahatan dalam negerinya, tapi toh ia harus mempertahankannya dan mencari kesucian di dalamnya. kalau tidak, ai buka seorang satria, Nak.”

Sejenak aku bertanya, masih adakah nasionalisme dan semangat bela negara pada diriku dan rakyat Indonesia sekarang ini. Jayalah negeri ini…….!!!

( Didedikasikan buat skuad PSSI Piala Asia tahun 2007…….Rela mati demi Merah Putih…!!!! )

Gus Mus

Puisi dari KH. Mustofa Bisri tentang refleksi hari kemerdekaan yang selalu bersambung setiap tahunnya. Salah satu puisi favoritku.

Rasanya Baru Kemarin (Versi X)

Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDI saja. Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.
Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan
yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan
kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima
sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah
banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya
sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian
Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang
dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin
sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya
Baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama
sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru
sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
Oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Rasanya baru kemarin

Habibie dan Gus Dur sudah mencoba sebentar
Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar
Megawati yang mendapat giliran dan sudah berusaha
Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa

SBY yang menggantikan kekuasaan
Terus dicoba cobaan demi cobaan
Jusuf Kalla sudah menggantikan Hamzah Haz di istana
Sambil menggantikan Akbar Tanjung di Golongan Karya

Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi menteri
Meski berbuntut pertikaian dalam partai sendiri
Tokoh-tokoh KPU yang dituding sering memperlihatkan arogansi
Malah banyak yang menjadi terdakwa kasus korupsi

Mantan-mantan calon dalam pilpres dan pilkada
Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada
Banyak yang demam pesta demokrasi
Ternyata belum bisa menghayati demokrasi

Rasanya baru kemarin

Partai-partai politik sudah menjadi rebutan
Para pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan
Tanpa peduli warga mereka yang rentan
Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan
Melihat iming-iming kekuasaan

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Bahkan rakyat tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri
Karena wakil-wakil mereka sudah mewakili dengan baik sekali

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

MUI yang didirikan untuk mendukung rezim lama
Kini sudah mencoba menjelma orsospol ulama
Pendukung-pendukung Islam
Sudah semakin berani mencemari Islam

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Aceh semakin merana
Ambon dan Papua terus terlena
Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja
Kini selalu dihina-hina

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan beberapa kawanku sudah berhenti menjadi politikus
Aku sendiri masih tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah enam puluh tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya
aku sekali menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

Rembang, 17 Agustus 2005

Older Posts »